Real Case Build #01 — Travel Wisata Website
JalanYuk
Oleh NIARDY ADITYA RACHMAN
JalanYuk adalah platform kurasi perjalanan dan ekspedisi alam autentik yang menghadirkan petualangan eco-luxury terbaik di Nusantara, mulai dari Raja Ampat, Labuan Bajo, hingga Bromo Semeru. Dirancang responsif dan elegan dengan Tailwind CSS serta animasi halus Framer Motion, website ini menyajikan pengalaman eksplorasi interaktif lengkap dengan dukungan dark mode. Fitur unggulannya meliputi hero carousel sinematik.(soryy mad telat puluhan menit).
Cerita di balik karya
Cerita di Balik JalanYuk: Dari Geladak Phinisi Menuju Konservasi Autentik 1. Kegelisahan di Tengah Gemerlap Pariwisata Instan JalanYuk berawal dari sebuah kegelisahan sederhana. Pada tahun 2022, sekelompok penjelajah alam, fotografer lanskap, dan pemandu lokal berkumpul di pelabuhan kecil Papua Barat. Mereka menyaksikan fenomena yang sama terjadi berulang kali: pariwisata massal yang terburu-buru, perburuan foto instan demi media sosial, tumpukan sampah plastik yang mengancam terumbu karang, serta minimnya dampak ekonomi langsung bagi masyarakat adat setempat. Banyak orang bepergian jauh, tetapi pulang tanpa benar-benar mengenal jiwa dari tempat yang mereka singgahi. 2. Titik Balik di Lautan Misool Di suatu malam yang sunyi di atas geladak kapal Phinisi kayu di perairan Misool, Raja Ampat—di bawah langit berbintang tanpa polusi cahaya—sebuah percakapan mengubah segalanya. Mereka menyadari bahwa Nusantara memiliki kekayaan alam yang teramat sakral untuk sekadar dijadikan latar swafoto. Indonesia membutuhkan sebuah cara baru dalam menjelajah: perjalanan yang lambat (slow travel), berkesadaran tinggi (mindful travel), dan beretika konservasi tanpa mengorbankan kenyamanan (eco-luxury). Dari obrolan di geladak kapal itulah, tercetus nama sederhana yang sarat ajakan hangat: "JalanYuk". 3. Tiga Janji Utama JalanYuk JalanYuk didirikan bukan sekadar sebagai agen tur komersial, melainkan sebagai wadah kurasi ekspedisi yang memegang teguh tiga janji: Rute Autentik & Pembatasan Kuota (Small Footprint): Menghindari pariwisata massal. Setiap perjalanan dibatasi hanya 8–12 penjelajah agar ekosistem tidak terbebani dan hubungan antarpenjelajah terasa hangat layaknya keluarga. Berdayakan Penjaga Tradisi: Setiap ekspedisi wajib dipandu oleh pemandu lokal berlisensi, ranger konservasi, dan nelayan setempat yang paling memahami rahasia tanah air mereka. Ekspedisi Bertanggung Jawab (Leave No Trace): Setiap tiket ekspedisi mengalokasikan 5% dananya untuk program pembibitan terumbu karang, pembersihan pantai terpencil, dan reboisasi lereng gunung. 4. Menghadirkan Jiwa Petualangan ke Ranah Digital Filosofi keheningan dan keanggunan alam inilah yang kemudian diterjemahkan ke dalam website JalanYuk: Warna Alam: Gradasi hijau lumut (deep forest moss), putih pasir hangat (warm cream), dan aksen jingga fajar (sunburst amber) diambil langsung dari warna fajar Bromo dan kedalaman laut kepulauan Banda. Animasi yang Mengalir Halus: Menggunakan Framer Motion agar pengalaman pengguna terasa tenang, mengalir seirama hembusan angin laut dan deburan ombak. Transparansi Tanpa Jebakan: Mesin reservasi dirancang transparan hingga rincian rupiah terkecil—karena kejujuran adalah dasar dari setiap petualangan yang bermakna.
Karya peserta Real Case Build #01 — Travel Wisata Website. Deskripsi dan cerita disampaikan oleh peserta.
Dukung kreator dengan memberikan like atau feedback membangun.
Komentar & Masukan Komunitas (0)
Berikan masukan terkait UI/UX, teknis implementasi, atau sampaikan apresiasi untuk karya peserta ini.
Belum ada komentar untuk karya ini.
Jadilah yang pertama memberikan apresiasi atau feedback untuk peserta ini!
