Sebelum buka Google AI Studio, OpenCode, atau mulai nyuruh AI bikin website, ada satu hal yang harus jelas dulu:
Kita sebenarnya mau bikin website apa?
Kelihatannya simpel, tapi ini justru fondasi dari semuanya.
Kalau dari awal kita cuma bilang:
“Bikinin website yang keren.”
AI bakal nebak-nebak sendiri. Hasilnya mungkin kelihatan bagus, tapi sering gak jelas targetnya, kontennya random, section-nya generik, dan akhirnya terasa seperti template AI.
Sebaliknya, kalau dari awal kita tahu jenis websitenya, untuk siapa, tujuannya apa, dan hasil akhirnya mau seperti apa, proses berikutnya bakal jauh lebih gampang.
Jangan Mulai dari Coding
Di tahap pertama ini kita belum perlu coding sama sekali.
Jangan buru-buru masuk AI developer.
Yang kita lakukan sekarang cuma memahami project.
Misalnya kita mau bikin:
Website Rumah Sakit
Jangan langsung kasih prompt:
Buatkan website rumah sakit modern.
Sebelum itu, kita perlu mikir dulu.
Website ini dibuat untuk apa?
Apakah buat rumah sakit besar?
Klinik kecil?
Rumah sakit ibu dan anak?
Rumah sakit premium?
Rumah sakit umum?
Walaupun sama-sama website kesehatan, arah desain dan isinya bisa berbeda.
Makanya tahap pertama adalah menentukan konteks project.
1. Tentukan Jenis Website
Pertama, tentukan dulu website apa yang mau dibuat.
Contohnya bisa:
-
Rumah sakit
-
Travel
-
Rental mobil
-
Company profile
-
Restaurant
-
Sekolah
-
Property
-
Portfolio
-
Klinik
-
Hotel
Di materi ini kita pakai contoh:
Website Rumah Sakit
Artinya semua keputusan berikutnya akan disesuaikan dengan kebutuhan rumah sakit.
Bukan cuma sekadar “website yang bagus”.
2. Tentukan Tujuan Website
Setiap website harus punya tujuan.
Website rumah sakit misalnya bukan cuma dibuat supaya rumah sakit “punya website”.
Website tersebut bisa punya tujuan untuk membantu calon pasien menemukan informasi dengan lebih mudah.
Misalnya seseorang membuka website karena ingin:
mencari dokter, melihat jadwal dokter, mengetahui layanan rumah sakit, mencari informasi fasilitas, membuat appointment, mencari nomor emergency, atau sekadar memastikan rumah sakit tersebut terpercaya.
Dari sini kita mulai ngerti bahwa website harus dibangun berdasarkan kebutuhan user, bukan berdasarkan apa yang terlihat keren saja.
Untuk contoh kita:
Tujuan website:
Membantu calon pasien mendapatkan informasi rumah sakit, menemukan dokter dan layanan yang dibutuhkan, serta mengarahkan mereka untuk membuat appointment.Nah, sekarang project-nya sudah mulai punya arah.
3. Tentukan Siapa yang Akan Menggunakan Website
Ini biasa disebut target user.
Gak perlu dibuat ribet.
Cukup tanyakan:
“Siapa orang yang kemungkinan akan membuka website ini?”
Untuk website rumah sakit, target user-nya misalnya:
pasien, keluarga pasien, orang yang sedang mencari dokter spesialis, orang yang ingin medical check-up, atau calon pasien yang sedang membandingkan rumah sakit.
Kenapa ini penting?
Karena desain website untuk rumah sakit gak cocok kalau dibuat seperti website gaming.
User rumah sakit biasanya membutuhkan:
kejelasan, rasa aman, informasi yang mudah ditemukan, dan tampilan yang terpercaya.
Jadi dari target user saja kita sudah bisa mengambil keputusan desain.
4. Bayangkan Hasil Akhirnya
Sekarang bayangkan website kalian sudah selesai.
Kira-kira mau terlihat seperti apa?
Jangan jawab cuma:
“Keren.”
“Keren” terlalu luas.
Coba lebih spesifik.
Misalnya:
Website rumah sakit modern, clean, profesional, banyak whitespace, mudah digunakan, terasa terpercaya, menggunakan visual healthcare yang berkualitas, dan responsive di mobile.
Nah.
Ini jauh lebih berguna buat AI nanti.
Karena AI sekarang punya gambaran tentang hasil akhir yang kita harapkan.
5. Belum Tahu Mau Seperti Apa? Tanya AI
Kalau kalian bingung, justru gunakan AI untuk membantu berpikir.
AI bukan cuma alat buat ngoding.
AI juga bisa dipakai sebagai partner diskusi.
Misalnya kalian sudah tahu mau membuat website rumah sakit, tapi belum ngerti website rumah sakit yang bagus itu seperti apa.
Kalian bisa bertanya:
Saya ingin membuat website rumah sakit.
Saya masih pemula dan belum ingin membuat code dulu.
Bantu saya memahami:
- siapa target pengguna website rumah sakit
- apa tujuan utama website rumah sakit
- informasi apa yang biasanya dicari pengunjung
- seperti apa website rumah sakit yang modern dan profesional
- apa yang harus saya perhatikan sebelum mulai membuat websitenyaJelaskan dengan bahasa sederhana.
Perhatikan bagian:
“belum ingin membuat code dulu.” Ini penting.
Kita sedang berpikir dan merencanakan, bukan langsung build.
Contoh: Dari Ide Mentah Menjadi Ide yang Jelas
Awalnya kita cuma punya:
Website Rumah Sakit
Setelah sedikit berpikir dan berdiskusi dengan AI, ide tersebut bisa berkembang menjadi:
Saya ingin membuat website rumah sakit modern untuk masyarakat umum.
Website harus membantu pengunjung mencari informasi dokter, layanan, fasilitas, dan appointment.
Target utamanya adalah pasien dan keluarga pasien.
Tampilan yang diinginkan clean, profesional, nyaman dilihat, terpercaya, dan responsive.
Website ini hanya frontend / tampilan terlebih dahulu, belum menggunakan backend.Lihat bedanya?
Yang pertama:
“Website Rumah Sakit.”
Yang kedua sudah punya arah project.
Padahal kita belum menulis satu baris code pun.
Kenapa Ini Penting Saat Pakai AI?
AI bekerja berdasarkan konteks yang kita kasih.
Kalau konteksnya sedikit, AI akan mengisi bagian yang kosong dengan asumsi sendiri.
Makanya prompt seperti:
Buat website rumah sakit keren.
sering menghasilkan website generik.
Biasanya isinya:
hero standar, tiga card layanan, about, testimonial, footer.
Bukan berarti salah.
Tapi AI tidak tahu apa sebenarnya yang kita inginkan.
Bandingkan dengan:
Saya ingin membuat website rumah sakit modern.
Target user:
pasien dan keluarga pasien.
Tujuan:
memudahkan user menemukan dokter, layanan,
fasilitas, serta melakukan appointment.
Style:
clean, professional, trustworthy,
banyak whitespace dan modern healthcare style.
Untuk sekarang hanya frontend,
belum membutuhkan backend.AI langsung punya lebih banyak konteks.
Dan semakin bagus konteksnya, biasanya semakin bagus pula hasil diskusi dan implementasinya.
Jangan Takut Kalau Belum Tahu Semuanya
Kesalahan pemula biasanya merasa:
“Gue harus ngerti semuanya dulu baru mulai.”
Enggak.
Justru kita pakai AI untuk membantu mengisi kekurangan pengetahuan tersebut.
Kalau kalian gak ngerti istilah tertentu, tanya.
Misalnya:
Apa itu target user? Jelaskan untuk orang yang baru belajar bikin website.
Atau:
Kenapa website rumah sakit perlu terlihat terpercaya? Kasih contoh penerapannya di desain website.
Atau bahkan:
Saya belum tahu apa yang harus dipikirkan sebelum membuat website. Tanya saya satu per satu sampai konsep project saya jelas.
Prompt terakhir ini powerful banget buat pemula.
AI bisa berubah dari sekadar “mesin pembuat website” menjadi mentor yang membantu kalian berpikir.
Jangan Langsung Memikirkan Fitur Terlalu Jauh
Di tahap ini gak perlu langsung mikirin:
database apa, login pakai apa, framework apa, API apa, authentication gimana.
Belum.
Untuk landing page atau website frontend sederhana, fokus dulu ke:
Apa yang dibuat → untuk siapa → tujuannya apa → hasil akhirnya seperti apa.
Teknologinya belakangan.
Ini juga mencegah kalian terjebak terlalu teknis padahal konsep websitenya sendiri belum jelas.
Template yang Bisa Kalian Pakai
Setiap mau mulai project, kalian bisa isi template sederhana ini:
JENIS WEBSITE
Website Rumah Sakit
TARGET USER
Pasien dan keluarga pasien.
TUJUAN
Membantu pengunjung mencari informasi rumah sakit,
dokter, layanan, fasilitas, dan appointment.
HASIL YANG DIINGINKAN
Website modern, clean, profesional, terpercaya, mudah digunakan, dan responsive.
SCOPE
Untuk sekarang hanya frontend / landing page. Belum membutuhkan backend.Tidak perlu sempurna.
Nanti masih bisa berubah setelah kita masuk tahap riset.
Gunakan AI untuk Menguji Ide Kalian
Sebelum lanjut, kalian juga bisa minta AI mengkritik konsep yang sudah dibuat.
Contoh:
Saya ingin membuat project berikut:
Jenis:
Website Rumah Sakit
Target:
Pasien dan keluarga pasien
Tujuan:
Membantu user menemukan dokter, layanan, fasilitas, dan informasi appointment.
Style:
Modern, clean, professional, trustworthy.
Scope:
Frontend saja.
Review konsep saya.
Apakah masih ada konteks penting yang kurang?
Jangan membuat code dulu.Dengan begitu AI bisa menunjukkan hal-hal yang mungkin belum kalian pikirkan.
Kesalahan yang Sering Dilakukan
Yang paling sering terjadi adalah langsung build tanpa planning.
Buka AI Studio.
Ketik:
“Buat website.”
Generate.
Lihat hasil.
Tidak suka.
Prompt:
“Bikin lebih bagus.”
Masih gak suka.
Prompt lagi:
“Lebih modern.”
Akhirnya muter-muter.
Masalahnya bukan AI-nya.
Masalahnya dari awal kita sendiri belum tahu apa yang kita mau.
Kalau arah project jelas, revisi ke depannya juga akan jauh lebih mudah.
Gunakan AI Sebagai Guru, Bukan Cuma Tukang Coding
Mulai dari materi pertama ini, biasakan satu hal:
Kalau menemukan sesuatu yang gak ngerti, tanya AI.
Jangan cuma suruh AI mengerjakan semuanya.
Contoh:
Kenapa website ini membutuhkan CTA? Kenapa target user penting sebelum menentukan desain? Apa bedanya website company profile dengan landing page? Menurut kamu konsep website saya terlalu luas gak?
Semakin banyak kalian bertanya “kenapa?”, semakin cepat kalian mulai memahami prosesnya.
Target kita bukan:
AI bisa bikin website buat gue.
Tapi perlahan menjadi:
Gue tahu website apa yang mau dibuat, gue tahu cara mengarahkannya, dan AI membantu gue mengerjakannya.
Itu level yang berbeda.
Mini Challenge #01
Sebelum masuk materi berikutnya, tentukan satu project yang ingin kalian buat.
Kalau kalian sedang mengikuti Hammad Studio Build Challenge #01, gunakan:
**Hospital Website.**
Kemudian tulis:
Jenis Website: ...
Target User: ...
Tujuan Website: ...
Style / Hasil yang Diinginkan: ...
Scope: ...Setelah itu diskusikan dengan AI sampai kalian merasa konsep project tersebut sudah cukup jelas.
Belum perlu build.
Kita baru sedang menentukan arah.
Checklist Sebelum Lanjut
Sebelum masuk materi berikutnya, pastikan kalian sudah bisa menjawab:
Apa yang gue bikin?
Siapa yang bakal pakai?
Website ini membantu mereka melakukan apa?
Gue pengen hasil akhirnya terasa seperti apa?
Kalau empat pertanyaan itu sudah bisa dijawab, berarti kita siap masuk tahap berikutnya.
Selanjutnya: Riset Website dengan AI
Sekarang kita sudah tahu apa yang mau dibuat.
Tapi kita belum tahu:
website di industri tersebut biasanya punya apa, desain yang bagus seperti apa, user membutuhkan informasi apa, dan website terbaik di bidang itu seperti apa.
Di materi berikutnya kita akan menggunakan AI untuk melakukan riset sebelum mulai mendesain dan build.
Lanjut → AI Web Building #02: Riset Website dengan AI
Intinya: jangan mulai dari prompt “buatkan website”. Mulai dari “gue sebenarnya mau bikin apa?”
Ide → Pahami → Riset → Diskusi → Brief → Build → Revisi → GitHub → Deploy.
